Kejujuran Bahasa Tubuh Pasangan

Ilustrasi

Action speaks louder than words. Bahasa tubuh sering kali lebih jujur ketimbang kata-kata.

Pada dasarnya manusia memang lebih sering mengungkapkan perasaan lewat bahasa tubuh. Menurut penelitian Profesor Birdwhistell, seorang ahli nonverbal perbandingannya adalah 65:35. Artinya kita perlu memahami bahasa tubuh pasangan untuk mengetahui isi hatinya yang paling dalam.

Nah, berikut ini beberapa bahasa tubuh yang penting Anda ketahui maknanya.

Berciuman

* Pertanda baik, bila.

Ciuman yang halus, hangat disertai tatapan mata nan lembut. Meski ciuman berlangsung singkat menandakan dia merasa kangen, senang, bahagia, sayang, ingin dimanja atau diperhatikan. Singkat kata, bahasa tubuh ini positif. Apalagi, kalau kemudian ditambah dengan dekapan atau pelukan serta saling merapatkan bagian dada. Selain mengungkapkan rasa sayang dan kerinduan juga melambangkan jalinan kedekatan. Boleh dibilang, pasangan Anda secara penuh menerima kehadiran Anda.

* Pertanda buruk, bila

Ciuman kaku, tegang, dingin, bahkan terburu-buru. Bisa menandakan adanya keterpaksaan. Pasangan Anda tidak sungguh-sungguh melakukannya. Jadi hanya sebatas “ritual” bukan karena ia membutuhkan. Apalagi kalau tidak ada kontak tubuh seperti pelukan atau dekapan. Ini berarti dia berusaha menjaga jarak atau menghindari kedekatan. Mungkin ada masalah yang tidak Anda sadari sehingga dia menghindari kontak fisik yang intens.

* Sebaiknya Anda.

Tanyakan dengan lembut apa yang menggelayuti pikirannya. Apakah ada masalah (yang berkaitan dengan dirinya, anak, kantor atau Anda). Bisa jadi perkaranya sederhana. Misalnya, pasangan masih ingin berduaan, sementara Anda sudah buru-buru mau ke kantor. Bila memang itu masalahnya, berilah ciuman dan pelukan hangat. Tatapan mata lembut juga dapat menunjukkan bahwa Anda sebenarnya sangat perhatian pada pasangan, menyayangi dan mencintai sepenuh hati.

Lain masalah kalau sikapnya itu disebabkan Anda dianggap berbuat kesalahan. Setelah tahu apa kesalahan Anda, segeralah minta maaf atas kekhilafan itu. Moga-moga saja suasananya bisa segera mencair. Alhasil, Anda dan pasangan pun kembali mesra dan harmonis.

Bercinta

* Pertanda baik, bila…

Libido atau gairah seksual yang tengah membara biasanya akan ditunjukkan dengan bahasa tubuh yang erotis. Entah itu melalui gerakan bibir, mata, tangan, atau dengan kostum seksi yang dikenakannya. Bila pria, bisa saja ia bercukur rapi dan menyemprotkan parfum favoritnya. Sinyal-sinyal tersebut dapat diartikan bahwa pasangan sedang berusaha mencuri perhatian untuk mengajak berhubungan intim.

Saat “ritual” berlangsung, bahasa tubuh dalam bercinta tidak hanya berupa kontak tubuh semata. Akan tetapi, juga terjadi kontak mata. Tatapan mata merupakan ungkapan ekspresi yang mendalam dan kebahagiaan serta kepuasan. Dengan begitu, kenikmatan bercinta tidak sekadar bersifat fisik yaitu menyatunya dua tubuh, tapi juga dengan perasaan sepenuh hati.

* Pertanda buruk, bila.

Ketika hendak memulai hubungan intim pasangan tampak gugup. Tubuhnya tidak relaks, terutama di sekitar leher atau bahu. Bahkan, di saat yang sama, kedua matanya tertutup/terpejam. Kalaupun menatap, terasa kaku. Apalagi kalau sampai membuang pandangan. Hubungan intim pun terasa hambar.

* Sebaiknya Anda.

Tidak memaksakan untuk melangsungkan hubungan intim karena kemungkinan besar tidak akan happy ending. Anda bisa menanyakan apa yang menjadi kendalanya. Boleh jadi dia tidak mood,  kecapekan atau ada masalah lainnya. Lebih baik mengetahui dan mengerti kebutuhan pasangan daripada memaksakan kehendak diri sendiri demi kesenangan pribadi.

Bertengkar

* Pertanda baik, bila.

Walaupun adu argumentasi, Anda dan pasangan tetap melakukan kontak mata dan saling berhadapan. Kelopak mata tak membesar dan nada suara pun tidak meninggi. Posisi badan terbuka seperti biasa, tanpa menyilangkan tangan serta tanpa disertai acungan telunjuk dan sebagainya.

* Pertanda buruk, bila.

Saat bertengkar, pandangan pasangan tertuju ke bawah (tanda tak mau peduli dengan penjelasan Anda) atau mengernyitkan hidung (berarti muak dengan apa yang dikatakan). Dia tak berusaha melakukan kontak mata malah membalikkan tubuh dan pergi begitu saja tanpa mau mendengar. Ini artinya, dia tak mau ambil pusing dengan apa yang Anda katakan dan tak mau lagi terlibat secara emosional serta tak berminat untuk memperdebatkan lebih jauh masalah yang sedang diributkan.

* Sebaiknya Anda.

Cooling down.  Tenangkan diri, tarik napas dalam-dalam agar tidak emosi. Beri waktu pada pasangan dan Anda sendiri untuk saling berpikir dan introspeksi diri. Bila Anda dan pasangan mau kembali membahas persoalan yang belum tuntas itu, berusahalah untuk mau mendengarkan penjelasannya.

Beri perhatian dengan sentuhan pada tangan. Baik bila Anda menggandeng pergelangan tangannya. Yang jelas, lakukan kontak mata. Kondisi tubuh lebih “bersahabat”, misalnya menyejajarkan tubuh Anda dengan tubuh pasangan. Tak perlu gelisah, tapi relaks dan gerakan lembut seperti sentuhan di tangannya menunjukkan bahwa Anda pun sebenarnya tak mau pertengkaran ini terjadi dan berharap bisa segera diselesaikan. Bila kondisinya makin mencair, Anda boleh saja menyandarkan kepala pada pasangan. Ini untuk mendekatkan lagi hubungan yang sempat renggang.

Jalan berdua

* Pertanda baik, bila.

Anda dan pasangan berjalan sejajar atau beriringan bahkan gerakan langkah kakinya pun “senada seirama”. Tak cuma itu, tangan yang saling bergandengan menunjukkan Anda dan pasangan memang mesra dan harmonis.

* Pertanda buruk, bila.

Pasangan yang berjalan beberapa langkah di depan Anda menunjukkan hilangnya komunikasi serta tidak harmonis. Saat hendak menyeberang jalan tidak saling bergandengan tangan juga bisa diartikan tidak saling peduli. Mungkin bila dalam kata-kata “Jalan kita sudah berbeda. Kamu jalan sesuai dengan jalan yang kamu ambil. Aku pergi mengikuti jalan yang kuambil.”

* Sebaiknya Anda.

Segera ajak pasangan bicara, mungkin saja dia memendam kekesalan atau kemarahan. Jangan tunda agar hubungan Anda tidak makin jauh. Alangkah baik bila Anda kembali “bergandengan tangan” dan dapat “menyamakan langkah kaki”.

Bukankah itu sebenarnya yang Anda dan pasangan inginkan?

Makan di restoran

* Pertanda baik, bila.

Saat duduk di meja, pasangan tersenyum dan terjalin kontak mata yang intensif. Kemudian, posisi duduk berdampingan atau duduk di bagian pojok untuk menjaga kedekatan dan privasi.

* Pertanda buruk, bila.

Anda dan pasangan duduk di ujung meja yang saling berjauhan. Tidak ada kontak mata atau tak merespons tatapan Anda. Malah pandangan pasangan tertuju ke segala arah atau pasangan lain. Dia menyibukkan diri dengan membaca buku/majalah atau sekadar nonton teve dan tak tampak antusias. Selanjutnya, masing-masing terfokus pada makanan tanpa ada komunikasi apa pun.

* Sebaiknya Anda.

Yang jelas, Anda perlu membangkitkan suasana mesra kembali. Pindah posisi duduk sehingga pandangan pasangan mengarah pada Anda. Pastikan tubuh Anda condong ke tubuhnya. Lemparkan senyuman dan perhatikan atau tatap dia dengan lembut. Kalau perlu beri sentuhan pada wajah atau sepanjang punggungnya. Ajak dia bicara dan mengutarakan permasalahan yang dihadapinya. Lalu, bersama-sama mencari solusi sehingga kemesraan dan keharmonisan bangkit kembali.

Hilman

sumber: http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Pasangan/Kejujuran-Bahasa-Tubuh-Pasangan

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: